Selasa, 09 Oktober 2012
JKT48 - Aitakatta
Aitakatta, aitakatta, aitakatta, yes!
Aitakatta, aitakatta, aitakatta, yes! denganmu
Bersepeda ku menanjaki bukit itu
Sekuat tenaga ku kayuh pedalnya
Angin pun mulai menghembus kemejaku
Ku rasa masih kurang cepat
Akhirnya ku sadari perasaan sebenarnya
Ingin jalani sejujurnya
Hanya di jalan ini ku akan terus berlari
Kamu berharga lebih dari siapa pun
Walau kau tolak tak akan ku sesali
Kamu berharga lebih dari siapa pun
Tadinya ku ingin ungkapkan rasa ini
Jika ku suka kan ku katakan suka
Tak ku tutupi ku katakan sejujurnya
Jika ku suka kan ku katakan suka
Dari hatiku dengan tulus ku katakan
Lalalalala lalalalalalala
Lalalalala lalalalalalala
Lalalalala lalalalalalala
Lalalalala lalalalalalala
Aitakatta, aitakatta, aitakatta, yes!
Aitakatta, aitakatta, aitakatta, yes! denganmu, aitakatta!
Cherry Belle - Its a Brand New Day
Hey Twibies listen to this.
Jangan pernah kau merasa sendiri.
Jangan pernah kau berkecil hati.
Hilangkan semua kisah gelisah.
Tunjukkan pada dunia kau bisa.
Coba sejenak kau renungkan ini.
Langkahkan kaki dan mantapkan hati.
Yakinlah semua kan baik saja.
Jadikan hidupmu lebih indah.
Someday you’ll find out.
That you are brighter than the star.
Just be strong.
Just be brave.
And be sure.
Yes you can.
Kau lah bintang hidupmu…
Lupakanlah semua yang lalu.
Kita sambut yang baru.
Janganlah kau ragu tuk maju.
Kejar semua impianmu.
Hadapi semua rintangan.
Kuatkanlah tekatmu.
Gapailah semua anganmu.
Yakinkanlah dirimu…
It’s A Brand New Day!
Jangan pernah kau merasa sendiri.
Jangan pernah kau berkecil hati.
Hilangkan semua kisah gelisah.
Tunjukkan pada dunia kau bisa.
Someday you’ll find out.
That you are brighter than the star.
Just be strong.
Just be brave.
And be sure.
Yes you can.
Kaulah bintang hidupmu…
Lupakanlah semua yang lalu.
Kita sambut yang baru.
Janganlah kau ragu tuk maju.
Kejar semua impianmu.
Hadapi semua rintangan.
Kuatkanlah tekatmu.
Gapailah semua anganmu.
Yakinkanlah dirimu.
It’s A Brand New Day!
ChiBi ChiBi Ha Ha, Ha Ha Ha Ha…
ChiBi ChiBi Ha Ha, Ha Ha Ha Ha…
ChiBi ChiBi Ha Ha, Ha Ha Ha Ha…
ChiBi ChiBi Ha Ha, Ha Ha Ha Ha…
Bad things happen.
But there is always a reason.
Gotta end this rainy season.
Let’s see some action.
Show ‘em what you got!
What you got!
Come on give a shot.
Twibies come closer!
We’re gonna get stronger.
Stronger than ever!
Someday you’ll find out.
That you are brighter than the star.
Just be strong.
Just be brave.
And be sure.
Yes you can!
Kaulah bintang hidupmu…
Lupakanlah semua yang lalu.
Kita sambut yang baru.
Janganlah kau ragu tuk maju .
Kejar semua impianmu.
Hadapi semua rintangan.
Kuatkanlah tekatmu.
Gapailah semua anganmu.
Yakinkanlah dirimu.
It’s A Brand New Day!
It’s A Brand New Day!
It’s A Brand New Da
Brand New Day…
Kamis, 04 Oktober 2012
Calon Buat Ajeng
Penulis : Asma Nadia
Calon Suami???!
Pfui,
kuhembuskan nafasku kuat-kuat. Bosan aku. Lagi-lagi calon suami yang
dibicarakan. Bayangin, sudah dua bulan ini tidak ada topik yang lebih
trend di rumah, selain soal suami.
Mulai
dari Papi yang selalu nyindir, sudah pengen menimang cucu. Mami yang
berulang-ulang menasihatiku agar jangan terlalu pilih-pilih tebu. Lalu
Bambang, adikku, yang kuharap bisa menetralisir suasana, tak urung ikut
menggoda. Bahkan si kembar Rani-Rano, yang masih es em pe pun,
ikut-ikutan menceramahiku.
”Mbak
Ajeng kan udah jadi insinyur, udah waktunya dong, mikirin berkeluarga.
Lagian, Rani sama Rano kan udah pengen dipanggil ’Tante dan Oom’. Tika
aja yang baru kelas enam, keponakannya udah empat!”
”Iya,
Mbak. Jaman sekarang, perempuan itu harus agresif. Mbak Ajeng sih,
kerjanya belajar ama ngaji melulu!” Rano menimpali kata-kata kembarnya.
Aku hanya bisa melotot, nemu di mana lagi pendapat kayak gitu.
”Udah sana kalian belajar!” hardikku agak keras.
”Tuh, kaaaan?!?” seru mereka berdua kompak.
Huhh, dasar kembar!
***
”Ajeng…!”
Kudengar panggilan Mami dari depan. Pelan aku bangkit dari meja belajar. Setelah merapikan jilbab, aku keluar.
”Ada apa, Mi?” tanyaku lunak. Sekilas sempat kulihat sosok seorang lelaki, duduk di sudut ruangan.
Kedua bola mata Mami tampak bersinar-sinar. Oo…Oo…! Pasti ada yang nggak beres, gumamku dalam hati. Iiih..su’udzon! Tapi….
Benar saja.
“Ajeng, kenalin. Ini tangan kanan Papi di kantor. Hebat, ya! Masih muda sudah jadi Wakil Presiden Direktur. Ayo, kenalin dulu. Ini Nak Bui….”
”Boy, Tante!”
”Eh, iya. Boi!”
Aku hanya bisa menahan geli. Mami…Mami…!
Rasa geliku mendadak hilang, ketika selama dua jam berikutnya aku harus mendengarkan obrolan Mami dengan Si Boi tadi.
Bukan main, lagaknya! Batinku menggerutu sendiri, mendengar cerita-ceritanya yang melulu berbau luar negeri.
”Jadi, Tante, selama belajar di Harvard, saya sudah coba-coba berbisnis sendiri. Hasilnya lumayan. Saya bisa jalan-jalan keliling Amerika, bahkan Eropa setiap kali holiday!”
Hihhh,
gemas aku! Terlebih melihat pancaran kagum di wajah Mami. Benar-benar
nggak peka nih anak. Kok bisa sih nggak merasa dicuekin? Tetap aja
ngomong. Tak perduli aku yang cuma diam dan sesekali manggut.
Kupanjatkan syukur yang tak terkira ketika akhirnya Si Boi pulang.
Alhamdulillah!
***
Kulihat Bambang tertawa. Kesal, kulemparkan bantal ke arahnya. Orang cerita panjang lebar minta advise, kok cuma diketawain?!?
”Bang,
serius, dong! Pokoknya kalau nanti Mami nanyain kamu soal Boy, awass
kalau kamu setuju!” ancamku serius. Bambang masih cengar-cengir.
”Mbak
Ajeng gimana, sih? Biasanya Mbak yang nyuruh aku sabar menghadapi
segala sesuatu. Lho, kok sekarang malah panasan gini? Tenang aja, Mbak,
sabar! Innallaha ma’ashshabirin!” balasnya sambil mengutip salah satu
ayat di Al-Quran.
Iya, ya. Kenapa aku jadi nggak sabaran gini. Baru juga ngadepin si Boy. Astaghfirullah!
”Mbak
bingung, Bang! Habis serumah pada mojokin semua. Kamu ngerti, kan,
milih suami itu nggak mudah. Nyari yang shalih sekarang susah. Mbak
nggak pengen gambling. Salah-salah pilih, resikonya besar. Nggak
main-main, dunia akhirat!”
Sekejap, kulihat keseriusan di matanya. Cuma sekejap, sebelum ia kembali menggodaku.
”Apa perlu Bambang yang nyariin???!”
Lemparan bantalku kembali melayang.
***
Kriiiiing…!!!
Ups, kumatikan bunyi weker yang membangunkanku. Jam tiga lebih seperempat. Aku
bangun dari tempat tidur, bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu.
Kuperhatikan lampu kamar Bambang masih menyala. Sayup-sayup suara kaset
murattal terdengar.
Tercapai
juga niatnya untuk begadang malam ini, pikirku. Heran, kebiasaan
menghadapi ujian dengan pola SKS (Sistem Kebut Semalam) masih membudaya
rupanya.
Cepat kuhapuskan pikiran tentang Bambang dan ujiannya. Mataku
nanar menyaksikan pantulan wajahku di cermin. Kuhapus tetesan air wudhu
yang tersisa dengan handuk kecil. Oooohh, begini rupanya gadis di
penghujung usia dua puluh sembilan? Kuperhatikan bentuk wajahku yang
makin tirus. Baru kusadari, betapa pucatnya wajah itu. Entah kemana
perginya rona merah yang biasa hadir di sana. Mungkin hilang termakan
usia. Ya Rabbi, pantas saja Papi dan Mami begitu khawatir. Sudah sulung
mereka tak cantik, menjelang tua, lagi!
”Ir. Ajeng Prihartini.” Kueja namaku sendiri.
”Jangan
cemas ya ukhti, ini bukan nasib buruk!” Bisikku menghibur. Bagaimana
pun aku harus tetap tawakkal pada Allah. Jodoh, rizki, dan maut, Dia
yang menentukan. Berjodoh di dunia bukanlah satu kepastian yang akan
kita raih dalam hidup. Tidak, ada hal lain yang lebih penting, lebih
pasti. Ada kematian, maut yang pasti kita hadapi. Sesuatu yang selama
ini sering kuucapkan kepada saudaraku muslimah yang lain, ketika mereka
ramai meresahkan calon suami yang tak kunjung datang.
”Sebetulnya
kita ini lucu, ya? Lebih sering mempermasalahkan pernikahan, hal yang
belum tentu terjadi. Maksud Ajeng, bergulirnya waktu dan usia, nggak
seharusnya membuat kita lupa untuk berpikir positif terhadap Allah.
Boleh jadi calon kita ini nggak buat di dunia, tapi disediakan di surga.
Mungkin Allah ingin memberikan yang lebih baik, who knows?” ujarku optimis, dua tahun yang lalu.
Astaghfirullah! Ishbiri ya ukhti, isbiri….
Tanganku
masih menengadah, berdoa, saat kudengar azan Subuh berkumandang. Hari
baru kembali hadir. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, untuk satu
hari lagi kesempatan beramal dan taubat, yang masih Kau berikan.
***
Selesai
berurusan dengan Mami untuk masalah Boy, gantian aku harus menghadapi
Tante Ida yang siap mempromosikan calonnya. Duhh! Lagi-lagi aku cuma
bisa manggut-manggut.
”Tante
sih terserah Ajeng. Pokoknya lihat aja dulu. Syukur-syukur Ajeng suka.
Dia anak lurah. Bapaknya termasuk juragan kerbau yang paling kaya di
Jawa. Tapi nggak kampungan, kok. Anak kuliahan juga seperti kamu!”
promosi Tante Ida bersemangat.
Dua hari kemudian, Tanteku itu kembali datang dengan ’balon’nya.
”Junaedi. Panggil aja Juned!”
Aku hanya mengangguk. Tak membalas uluran tangan yang diajukannya.
Selama
pembicaraan berikutnya, berkali-kali aku harus menahan diri, untuk
tidak lari ke dalam. Aku tidak ingin menyinggung perasaan Tante Ida.
Apalagi beliau bermaksud baik. Hanya saja, asap rokok Juned benar-benar
membuatku mual. Malah nggak berhenti-henti. Habis sebatang, sambung
sebatang. Persis lokomotif uap jaman dulu!
Dengan berani pula ia mengomentari penampilanku.
”Eng…jangan
tersinggung ya, Jeng. Aku suka bingung sendiri ngeliat perempuan yang
memakai kerudung. Kenapa sih tidak pintar-pintar memilih warna dan
mode?! Aku kalau punya isteri, pasti tak suruh beli baju yang
warna-warnanya cerah, menyala. Sekaligus yang bervariasi. Seperti yang
dipakai artis-artis kita yang beragama Islam itu lho, sekarang. Ndak
apa-apa toh sedikit kelihatan leher atau betis?! Maksudku biar tidak
terlihat seperti karung berjalan gitu lho, Jeng! Hahaha….”
Kontan
raut mukaku berubah. Tanpa menunggu rokok keenamnya habis, aku mohon
diri ke dalam. Tak lama kudengar suara Juned pamitan. Alhamdulillah.
Ketika Tante Ida menanyakan pendapatku, hati-hati aku menjawab.
”Maaf ya, Tan…, rasanya Ajeng nggak sreg. Terutama
asap rokoknya itu, lho. Soalnya Ajeng punya alergi sama asap rokok.
Mana kelihatannya Juned perokok berat, lagi. Maaf ya, Tan…, udah
ngerepotin.”
Bayang kekecewaan tampak menghiasi raut muka Tante Ida.
”Bener,
nih…nggak nyesel? Tante cuma berusaha bantu. Ajeng juga mesti
memikirkan perasaan Mami sama Papi. Susah lho, nyari yang seperti Juned.
Udah ganteng, dokterandes lagi! Terlebih kamu juga sudah cukup
berumur.”
Bujukan
Tante Ida tak mampu menggoyahkanku. Dengan masih kecewa, beliau
beranjak keluar. Sempat kudengar Tante Ida berbicara dengan Papi dan
Mami. Sempat pula kudengar komentar-komentar mereka yang bernada kecewa, sedih. Ya Allah, kuatkan hamba-Mu!
Hari berangsur malam. Aku masih di kamar, mematung. Beragam perasaan bermain di hatiku. Sementara itu, hujan turun rintik-rintik.
***
Siang
begitu terik. Langkahku lesu menghampiri rumah. Capek rasanya jalan
setengah harian, dari satu perpustakaan ke perpustakaan IPB lainnya.
Namun buku yang kucari belum juga ketemu. Padahal buku itu sangat
kuperlukan untuk menghadapi ujian pasca sarjanaku sebentar lagi. Sia-sia
harapanku untuk bisa beristirahat pulang ke Depok. Kereta yang
kutumpangi benar-benar penuh. Sudah untung bisa berdiri tegak, dan tidak
doyong ke sana ke mari, terdesak penumpang yang lain.
”Assalamu’alaikum!”
perasaanku kembali tidak enak, melihat Mami yang tidak sendirian.
Seorang lelaki berjeans, dengan sajadah di pundak, dan kopiah di kepala,
tampak menemani beliau. Jangan…jangan….
”Wa’alaikumussalam.
Nah, ini Ajengnya sudah pulang. Ajeng, sini sayang. Kenalkan, Saleh.
Putera Pak Camat yang baru lulus dari pondok pesantren di Kalimantan. Kalian
pasti bisa bekerja sama mengelola kegiatan masjid di sini. Lho, Ajeng…,
kok malah diam? Maaf Nak Saleh, Ajeng memang pemalu orangnya.”
Duhh, Mami!
Kali
ini Mami membiarkanku berdua dengan tamunya itu. Risih, kuminta Rani
mendampingiku. Dia setuju setelah aku janji akan menemaninya mendengar
ceramah di Wali Songo, pekan depan.
Selama
Saleh berbicara, aku menunduk terus. Bisa kurasakan pandangannya yang
jelalatan ke arahku. Dengan gaya bahasa yang tinggi, Saleh bercerita
tentang berbagai kitab berbahasa Arab yang telah dia kuasai. Bukan main.
Lalu ia mulai membahas satu persatu perbedaan pendapat di kalangan umat
Islam. Soal doa qunut, perbedaan doa iftitah, masalah posisi telunjuk
ketika tahiyat, dan lain-lain yang senada.
Terus terang, aku tidak begitu setuju dengan caranya. Betul
bahwa semuanya harus kita ketahui. Tapi bagiku, dengan makin
meributkannya, hanya akan memperuncing perbedaan yang ada. Cukuplah
bahwa masing-masing berpegang pada sunnah Rasulullah. Tentunya akan
lebih baik, jika kita justru berusaha mencari titik temu atau persamaan,
dan bukan malah memperlebar jurang perbedaan.
”Kalau menurut Saleh, kasus Bosnia itu bagaimana?” tanyaku mengalihkan perhatian.
”Oooh,
itu. Ane sangat tidak setuju. Menurut pendapat dan analisa ane, tidak
seharusnya masalah Bosnia itu digembar-gemborkan. Itu akan membuat sikap
tersebut kian membudaya. Sudah saatnya pola sikap ngebos, dan
penghargaan masyarakat terhadap orang-orang yang punya kedudukan,
diarahkan sewajarnya. Agar tidak berlebihan.” ulasnya panjang lebar.
Gantian aku yang bingung.
”Saya…saya tidak paham apa yang Saleh maksudkan.” ujarku sedikit gagap.
”Kenapa? Apa karena bahasa yang ane gunakan terlalu tinggi atau bagaimana, hingga Ajeng sulit memahami?”
Aku tambah melongo.
”Bukan itu, ini…, Bosnia yang mana, yang Saleh maksudkan?” tanyaku makin bingung.
”Lha, yang nanya kok malah bingung?! Yang ane bicarakan tadi ya tentang Bosnia, Boss-Mania, kan maksud Ajeng?!!”
Ufh,
kutahan tawa yang nyaris meledak. Bingung aku, ternyata masih saja ada
orang yang meributkan hal-hal yang relatif lebih kecil, dan melupakan
masalah lain yang lebih besar. Dari sudut mataku, kulihat Rani
pringas-pringis menahan geli, sambil mempermainkan kerudung pink-nya.
Lucu sekali.
”Bukan,
yang Ajeng maksudkan adalah penindasan yang terjadi pada
saudara-saudara muslim kita di Negara Bosnia.” aku berusaha menjelaskan
dengan sabar.
Tampak Saleh manggut-manggut.
”Ooooh, yang itu. Ya…jelas penindasan itu tidak bisa dibenarkan. Tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan keadilan,” ujar Saleh optimis, lalu….
”Ngomong-ngomong, Bosnia itu di mana, sih?”
Tawa Rani meledak.
Duhhh, Mami!!!
***
Malamnya, waktu aku protes ke Mami, soal calon-calon itu, tanpa diduga, malah Mami yang marah.
”Lho,
kamu itu gimana toh? Kata Bambang kamu maunya sama Saleh. Pas Mami
temuin, kamu bilang bukan yang seperti itu yang kamu inginkan. Jadi
sebenarnya, Saleh yang mana calon kamu itu?” suara Mami meninggi.
Aku terhenyak. Bambang yang duduk di kursi makan tersenyum simpul. Awas, kamu de’! Bisikku gemas.
”Bukan
yang namanya Saleh, Mi. Ajeng ingin orang yang saleh, yang taat
beribadah. Orang yang punya pemahaman paling tidak mendekati
menyeluruhlah, tentang Islam. Yang Islamnya nggak cuma teori, tapi ada
bukti. Yang nggak jelalatan memandang Ajeng terus-terusan dari ujung
jilbab sampai kaos kaki, seperti hendak menawar barang dagangan. Ajeng
tahu, usia Ajeng sudah jauh dari cukup. Ajeng juga pengen segera
menikah. Perempuan mana sih, yang tidak ingin berkeluarga, dan punya
anak?” lanjutku hampir menangis.
”Tapi…,
tolong. Jangan menyudutkan Ajeng. Tolong Mami bantu Ajeng agar bisa
tetap sabar, tetap tawakkal sama Allah. Kita memang harus berusaha, tapi
jangan memaksakan diri. Biar Ajeng mesti nunggu sampai tua, Ajeng siap.
Daripada bersuamikan orang yang akhlaknya tidak Islami. Tolong Ajeng,
Mi…tolong!” Kusaksikan mata Mami berkaca-kaca. Diraihnya aku ke dalam
pelukannya. Berdua kami berisakan. Papi turut menghampiri, menepuk-nepuk
pundakku. Rani dan Reno terdiam di kursinya.
”Maafin Mami, sayang….” suara Mami lirih, memelukku makin erat.
***
Kesibukanku menulis diary terhenti.
”Mbak Ajeng…telepon tuh!” pekik Rano keras.
”Dari siapa? Kalau dari Anto Boy, Didin, Juned, atau Saleh, Mbak nggak mau terima!” balasku agak keras.
Hening, tidak ada panggilan lanjutan dari Rano. Aku lega.
Alhamdulillah,
sejak kejadian malam itu, perlahan topik trend kami bergeser. Mami
tidak lagi menyodorkan calon-calonnya, sebelum menanyakan kesediaanku.
Beberapa Oom dan Tante yang datang, harus pulang dengan kecewa karena
promosi dibatalkan. Aku masing ingin menenangkan diri dulu.
Kuraih pena. Dengan hati seringan kapas, aku mulai menulis:
Kepada Calon Suamiku….
Usiaku hari ini bertambah setahun lagi.
Tiga
puluh tahun sudah. Alhamdulillah. Kuharap, tahun-tahun yang berlalu,
meski memudarkan keremajaanku, namun tidak akan pernah memudarkan ghirah
Islamiah yang ada. Mudah-mudahan aku bisa tetap istiqamah di jalan-Nya.
Ujian
pasca sarjanaku sudah selesai. Sebentar lagi, satu embel-embel gelar
kembali menghiasi namaku. Belum lama ini aku juga mengambil kursus jahit
dan memasak. Dengan besar hati pula, Mami mesti mengakui, bahwa
kemahirannya di dapur, kini sudah tersaingi.
Alhamdulillah,
sekarang aku lebih bisa berkonsentrasi untuk menulis, dan memberikan
berbagai ceramah di beberapa kampus dan masjid. Baru sedikit itulah,
yang bisa kulakukan sebagai perwujudan syukurku atas nikmat-Nya yang tak
terhitung.
Calon suamiku….
Aku
maklum, bila sampai detik ini kau belum juga hadir. Permasalahan yang
menimpa kaum muslimin begitu banyak. Kesemuanya membentuk satu daftar
panjang dalam agenda kita. Aku yakin ketidakhadiranmu semata-mata karena
kesibukan dakwah yang ada. Satu kerja mulia, yang hanya sedikit orang
terpanggil untuk ikut merasa bertanggung jawab. Insya Allah, hal itu
akan membuat penantian ini seakan tidak pernah ada.
Calon suamiku….
Namun
jika engkau memang disediakan untukku di dunia ini, bila kau sudah siap
untuk menambah satu amanah lagi dalam kehidupan ini, yang akan menjadi
nilai plus di hadapan Allah (semoga), maka datanglah. Tak usah kau
cemaskan soal kuliah yang belum selesai, atau pekerjaan yang masih
sambilan. Insya Allah, iman akan menjawab segalanya. Percayakan semuanya
pada Allah. Jika Dia senantiasa memberikan rizki, padahal kita tidak
dalam keadaan jihad di jalan-Nya, lalu bagaimana mungkin Allah akan
menelantarkan kita, sedangkan kita senantiasa berjihad di sabil-Nya?!
Banyaklah berdoa, Calon Suamiku, di manapun engkau berada. Insya Allah, doaku selalu menyertai usahamu.
Wassalam,
Adinda
NB: Ngomong-ngomong, nama kamu siapa, sih?
”Syahril… Nama saya Syahril.”
Deg!
Aku tersentak. Pena yang kugenggam jatuh. Rasa-rasanya kudengar satu
suara. Sedikit berjingkat, aku melangkah ke depan. Sebelum aku sempat
menyibak tirai yang membatasi ruang makan dengan ruang tamu, kudengar
suara Papi memanggilku.
”Ajeng…!”
Hampir
aku terjatuh, saking tergesanya menghampiri beliau. Sekilas mataku
menyapu bayangan seorang lelaki berkaca mata, yang berdiri tak jauh dari
Papi, dengan wajah tertunduk, rapat ke dada. Di belakangnya, Bambang
berdiri dengan senyum khasnya.
”Nah,
Nak Syahril, kenalkan, ini yang namanya Ajeng. Puteri sulung Oom. Lho,
kok malah nunduk?” suara ngebas Papi kembali terdengar.
Aku menoleh sesaat, yang dipanggil Syahril tetap menunduk.
”Ayo,
salaman. Ini lho, Jeng…puteranya Mas Wismoyo, sahabat Papi sejak jaman
revolusi dulu, sekaligus Ass Dos-nya Bambang di FISIP. Baru lulus ya
Nak?”
Syahril mengangguk. Tapi, tetap tak ada uluran tangan.
”Assalamu’alaikum, Ajeng. Saya Syahril.”
Masya Allah! Aku masih melongo, terpana.
“Insya
Allah, hari ini saya akan berta’aruf dengan Ajeng. Kalau Ajeng setuju,
khitbahnya bisa dilaksanakan besok. Sesudah itu…mudah-mudahan kita bisa
jihad bareng….”
Agak samar kudengar kalimatnya yang terakhir. Kulihat Papi tersenyum lebar, melirikku.
”Apa, Jeng…khitbah? Ngelamar, ya…??”
Aku mengangguk pendek, tersipu. Tawa Papi makin lebar.
Aku masih terpana.
Masya Allah, calon suamiku…eng…engng…ups, apakah…apakah…ini, kamu???
* Pemenang Harapan I LMCPI Annida.
Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana
Aku
memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret
2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga
kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat
dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan.
Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan
masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan
pelik.
Ulang
tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi.
Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku
menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah
membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak
apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”
Sekarang, pagi-pagi
ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen
rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak
mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin
mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik
napas panjang.
Heran,
apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku
mendengus kesal. Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak
ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada
momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah
muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.
Sedangkan
aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan
kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa
mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim
pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku
cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian
dari cinta.
Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi,
masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah
mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal
titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan.
Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung
waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun
perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami
sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya
dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.
Rasa
kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang
sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk
di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam
keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah,
beberapa kali kami bertengkar minggu ini.
Sebenarnya,
hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin
berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan.
Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali
baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini.
Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa
perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.
”Hen,
kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku
heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis
yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya
bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya,
hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja,
kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum
saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima
lamaranku lewat Diah.
”Kamu
kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku
sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi,
apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku
yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik.
Itu sudah lebih dari cukup buatku.
Minggu-minggu
pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti
layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi,
semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan
segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu
yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya
dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk
memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk
bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.
Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu.
Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas
smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut
perhatian suamiku.
Aku
langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku.
Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku
saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.
”Kenapa
Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa
basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia
selalu berhasil menebak dengan jitu.
Walau
awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku
berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum
mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah
Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi
terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa
kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras.
Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan
hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak
orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.
Aku
terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu
keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa.
Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan
istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya
perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku
membenarkan apa yang diucapkan Ibu.
Ya,
selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir
tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku
dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan
memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin
beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan?
Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita
denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di
kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan
menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya
yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.
”Hen,
kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan
yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…”
Ibu berkata tenang.
Aku
memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku
kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk
Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh
dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang
mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian
tubuhnya karena dipukuli suaminya?
Pelan-pelan,
rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan
waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari
agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya
dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini.
Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia
bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya?
Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?
Aku
segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah
dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak
memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.
Makan
malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan
rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang.
Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima
smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.
Aku
terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding,
jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di
sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’
tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.
Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Lewat kata yang tak sempat disampaikan
Awan kepada air yang menjadikannya tiada
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu. *
For vieny, welcome to your husband’s heart.
*dikutip dari Aku ingin mencintaimu dengan sederhana karya Sapardi Djoko Damono.
Orange range - Hana
Hanabira no you ni chiri yuku naka de
Yume mitai ni kimi ni deaeta kiseki
Ai shi atte kenka shite
Ironna kabe futari de nori koete
Umare kawatte mo anata no soba de hana ni narou
Itsu made mo aru no darou ka ore no maue ni aru taiyou wa
Itsu made mo mamori kireru darou ka naki warai okoru kimi no hyoujou wo
Izure subete naku naru no naraba futari no deai ni motto kansha shiyou
Ano hi ano toki ano basho no kiseki wa
Mata atarashii kiseki wo umu darou
Ai suru koto de tsuyoku naru koto shinjiru koto de norikoreru koto
Kimi ga nakushita mono wa ima mo mune ni hora kagayaki ushinawazu ni
Shiawase ni omou meguri aeta koto ore no egao torimodoseta koto
"arigatou" afureru kimochi daki susumu doutei
Hanabira no you ni chiri yuku naka de
Yume mitai ni kimi ni deaeta kiseki
Ai shi atte kenka shite
Ironna kabe futari de nori koete
Umare kawatte mo anata ni aitai
Hanabira no you ni chitte yuku koto
Kono sekai de subete uke irete yukou
Kimi ga boku ni nokoshita mono
"ima" to iu genjitsu no takaramono
Da kara boku wa seiippai ikite hana ni narou
Hana wa nande kareru no darou
Tori wa nande toberu no darou
Kaze wa nande fuku no darou
Tsuki wa nande akari terasu no
Naze boku wa koko ni iru n darou
Naze kimi wa koko ni iru n darou
Naze kimi ni deaeta n darou
Kimi ni deaeta koto sore wa unmei
Hanabira no you ni chiri yuku naka de
Yume mitai ni kimi ni deaeta kiseki
Ai shi atte kenka shite
Ironna kabe futari de nori koete
Umare kawatte mo anata ni aitai
Hanabira no you ni chitte yuku koto
Kono sekai de subete uke irete yukou
Kimi ga boku ni nokoshita mono
"ima" to iu genjitsu no takaramono
Da kara boku wa seiippai ikite hana ni narou
Ame agari niji kakari ao arashi ni umareshi hikari
Koko ni yuruginai taisetsu na mono
Kizuiteru "ai suru" to iu koto
Mada arukeru darou? mieteru n da mou
"omoi" toki wo koe towa ni hibike
Kimi no yorokobi kimi no itami kimi no subete yo
Saa sakihokore motto motto motto
Yume mitai ni kimi ni deaeta kiseki
Ai shi atte kenka shite
Ironna kabe futari de nori koete
Umare kawatte mo anata no soba de hana ni narou
Itsu made mo aru no darou ka ore no maue ni aru taiyou wa
Itsu made mo mamori kireru darou ka naki warai okoru kimi no hyoujou wo
Izure subete naku naru no naraba futari no deai ni motto kansha shiyou
Ano hi ano toki ano basho no kiseki wa
Mata atarashii kiseki wo umu darou
Ai suru koto de tsuyoku naru koto shinjiru koto de norikoreru koto
Kimi ga nakushita mono wa ima mo mune ni hora kagayaki ushinawazu ni
Shiawase ni omou meguri aeta koto ore no egao torimodoseta koto
"arigatou" afureru kimochi daki susumu doutei
Hanabira no you ni chiri yuku naka de
Yume mitai ni kimi ni deaeta kiseki
Ai shi atte kenka shite
Ironna kabe futari de nori koete
Umare kawatte mo anata ni aitai
Hanabira no you ni chitte yuku koto
Kono sekai de subete uke irete yukou
Kimi ga boku ni nokoshita mono
"ima" to iu genjitsu no takaramono
Da kara boku wa seiippai ikite hana ni narou
Hana wa nande kareru no darou
Tori wa nande toberu no darou
Kaze wa nande fuku no darou
Tsuki wa nande akari terasu no
Naze boku wa koko ni iru n darou
Naze kimi wa koko ni iru n darou
Naze kimi ni deaeta n darou
Kimi ni deaeta koto sore wa unmei
Hanabira no you ni chiri yuku naka de
Yume mitai ni kimi ni deaeta kiseki
Ai shi atte kenka shite
Ironna kabe futari de nori koete
Umare kawatte mo anata ni aitai
Hanabira no you ni chitte yuku koto
Kono sekai de subete uke irete yukou
Kimi ga boku ni nokoshita mono
"ima" to iu genjitsu no takaramono
Da kara boku wa seiippai ikite hana ni narou
Ame agari niji kakari ao arashi ni umareshi hikari
Koko ni yuruginai taisetsu na mono
Kizuiteru "ai suru" to iu koto
Mada arukeru darou? mieteru n da mou
"omoi" toki wo koe towa ni hibike
Kimi no yorokobi kimi no itami kimi no subete yo
Saa sakihokore motto motto motto
Orange range - Kizuna
Ima nani shiteru ka na
Kimi mo mite iru ka na
Orenji iro ni somaru sora wo
Asa hi ni kawaru yuuhi wo
Namida koboshi atte naita yoru mo
Kudaranai hanashi de asa made waratta hibi mo
Wasurenai ima no boku wo sasaeru takara mono da kara
Hanarete ite mo kanjiru anata no yasashi sa
Da kara doko ni itattte mou hitori ja nai
Donna koto atte mo kujikenai
Sora to umi ga kasanatta ano shima no you na
Hanarete mo onaji iro ni yasashiku mazari au
Hora yori sou kizuna
Dore dore wo shittari dore dore wo shiranakattari
Tomattari mae ni susundari ushiro ni sagattari
Mizukara korogaru toki mo areba te wo karite korogaru toki mo aru
Karan koron mata hirogaru
Karan koron mata korogaru
Sotto mune ni te wo atete nemurenai yoru wa
Yume no naka de mata aeru kikoeru komori uta
Senaka wo osu kizuna
LaLaLa...
Hora yori sou kizuna
Tomo no koe ga mune ni hibiita namida de nijinja michi wa mienai n da
Ima GET UP! mi agenda hora onaji sora kesshite kodoku ja nee n da
Subete se oi komu koto wa nai sa ii ka minna iru n da ima shinjiru n da kizuna
Kuzurenai kienai sa kore dake wa saa iku n da!
Ippo ippo tada mae e ippo ippo hohaba awase
Korobisou nara sou te wo tsukame Say Wo! Wo! Wo! minna de utae
Ippo ippoi susume mae e ippo ippo hohaba awase
Korobisou nara sou kono te tsukame Say Wo! Wo! minna de utae
Ima nani shiteru ka na kimi mo mite iru ka na
Ame wa yami sora ni kakaru aachi niji de tsunagaru kimi to boku
Kimi mo mite iru ka na
Orenji iro ni somaru sora wo
Asa hi ni kawaru yuuhi wo
Namida koboshi atte naita yoru mo
Kudaranai hanashi de asa made waratta hibi mo
Wasurenai ima no boku wo sasaeru takara mono da kara
Hanarete ite mo kanjiru anata no yasashi sa
Da kara doko ni itattte mou hitori ja nai
Donna koto atte mo kujikenai
Sora to umi ga kasanatta ano shima no you na
Hanarete mo onaji iro ni yasashiku mazari au
Hora yori sou kizuna
Dore dore wo shittari dore dore wo shiranakattari
Tomattari mae ni susundari ushiro ni sagattari
Mizukara korogaru toki mo areba te wo karite korogaru toki mo aru
Karan koron mata hirogaru
Karan koron mata korogaru
Sotto mune ni te wo atete nemurenai yoru wa
Yume no naka de mata aeru kikoeru komori uta
Senaka wo osu kizuna
LaLaLa...
Hora yori sou kizuna
Tomo no koe ga mune ni hibiita namida de nijinja michi wa mienai n da
Ima GET UP! mi agenda hora onaji sora kesshite kodoku ja nee n da
Subete se oi komu koto wa nai sa ii ka minna iru n da ima shinjiru n da kizuna
Kuzurenai kienai sa kore dake wa saa iku n da!
Ippo ippo tada mae e ippo ippo hohaba awase
Korobisou nara sou te wo tsukame Say Wo! Wo! Wo! minna de utae
Ippo ippoi susume mae e ippo ippo hohaba awase
Korobisou nara sou kono te tsukame Say Wo! Wo! minna de utae
Ima nani shiteru ka na kimi mo mite iru ka na
Ame wa yami sora ni kakaru aachi niji de tsunagaru kimi to boku
Senin, 01 Oktober 2012
Dinda Kirana - Saranghae (Aku Cinta)
Ku tahu dirimu menyayangi aku
Kau tahu diriku cinta kepadamu
Cinta kita takkan bisa terpisahkan
Kasih suci ini takkan pernah pergi
Walau jarak memisahkan kita berdua
Saranghae aku cinta padamu
Sampai nanti hingga aku mati
Saranghae aku cinta padamu
Dekap aku, peluk aku selama hidupku
Cinta kita takkan bisa terpisahkan
Kasih suci ini takkan pernah pergi
Walau jarak memisahkan kita berdua
Saranghae aku cinta padamu
Sampai nanti hingga aku mati
Saranghae aku cinta padamu
Dekap aku, peluk aku selama hidupku
Saranghae aku cinta padamu
Sampai nanti hingga aku mati
Saranghae aku cinta padamu
Dekap aku, peluk aku selama hidupku
Sampai nanti hingga aku mati
Saranghae aku cinta padamu
Dekap aku, peluk aku selamanya
Selama di hidupku
Kau tahu diriku cinta kepadamu
Cinta kita takkan bisa terpisahkan
Kasih suci ini takkan pernah pergi
Walau jarak memisahkan kita berdua
Saranghae aku cinta padamu
Sampai nanti hingga aku mati
Saranghae aku cinta padamu
Dekap aku, peluk aku selama hidupku
Cinta kita takkan bisa terpisahkan
Kasih suci ini takkan pernah pergi
Walau jarak memisahkan kita berdua
Saranghae aku cinta padamu
Sampai nanti hingga aku mati
Saranghae aku cinta padamu
Dekap aku, peluk aku selama hidupku
Saranghae aku cinta padamu
Sampai nanti hingga aku mati
Saranghae aku cinta padamu
Dekap aku, peluk aku selama hidupku
Sampai nanti hingga aku mati
Saranghae aku cinta padamu
Dekap aku, peluk aku selamanya
Selama di hidupku
Langganan:
Postingan (Atom)